Beberapa hari terakhir ini diberbagai media selalu menyajikan berita diseputar krisis Ambalat bahkan secara khusus metro TV memasukkan orasi Bung Karno pada saat pertentangan dengan Malaysia. Ambalat adalah blok laut seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar. Ini adalah wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.. Sesuai dengan hasil persetujuan batas laut dengan Malaysia pada tahun 1970 bahwa Ambalat merupakan wilayah yang sudah ditetapkan masuk wilayah Indonesia, tapi negara Malaysia belakangan ini mempersoalkan kembali bahwa wilayah tersebut bagian dari Malaysia. Karena pengakuan wilayah Ambalat ini oleh Malaysia menyebabkan banyak pelanggaran yang dilakukan kapal tentara diraja Malaysia yang masuk wilayah perairan Indonesia berkali-kali disekitar Ambalat.
Malaysia mungkin melakukan pengakuan ini dikarenakan keberhasilannya mengambil pulau Sipadan dan Ligitan yang juga daerah yang tidak jauh dari Ambalat. Keberhasilan ini dikarenakan pulau Sipadan dan Ligitan tidak ditempati oleh rakyat Indonesia tapi dihuni serta dikelolah oleh rakyat Malaysia, meskipun pulau Sipadan dan Ligitan juga sudah ditetapkan masuk wilayah Indonesia. Pulau Sipadan dan Ligitan begitu mudah pindah kepemilikan ke Negara Malaysia dan dimenangkan melalui melalui perundingan-perundingan atau dengan pendekatan-pendekatan diplomatis. Mengapa mereka menempuh jalur ini, mungkin mereka sudah mengerti bahwa kelemahan bangsa Indonesia untuk mempertahankan NKRI terletak pada jalur diplomasi atau perundingan-perundingan. Malaysia untuk meraih keberhasilan yang sama, maka Ambalat didekati dengan strategi dan pendekatan politik yang sama agar Indonesia terjebak atau terperangkap dalam iramanya. Mungkin Malaysia sudah mengetahui bahwa Indonesia sebagai Negara besar dengan wilayahnya yang luas namun nyalinya kecil dan kurang percaya diri, sehingga hal ini dijadikan modal meraih kemenangan untuk mengambil Ambalat.
Sungguh ironis dengan kenyataan kondisi dalam negeri Indonesia banyak pemimpin bangsa sebelum jadi mereka kebanyakan berjanji kepada bangsa ini bahwa NKRI harga mati namun pada realitanya setelah mereka terpilih, janjinya tak lebih seonggokan selogan untuk membangun citra agar dipilih.
HARGA MATI
Sebenarnya gesekan perbatasan antar dua negara ini sudah terjadi sejak 1967. Bahkan pada 27 Oktober 1969, Indonesia-Malaysia sampai meneken Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia. Dalam perjanjian itu disebutkan, kedua negara melakukan ratifikasi pada tanggal 7 Nopember 1969. Anehnya, di tahun yang sama Malaysia justru menerbitkan peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh. Indonesia dan Singapura, tak mengakui peta baru Malaysia itu. Kemudian pada 17 Maret 1970 kembali ditanda tangani Persetujuan Tapal Batas Laut Indonesia dan Malaysia. Sembilan tahun berselang Malaysia kembali menerbitkan peta baru mengenai tapal batas. Kali ini Malaysia memasukan blok maritim Ambalat ke dalam wilayahnya.
Ini sudah jelas bahwa blok Ambalat yang sudah menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah diatur dalam batas-batas wilayah itu adalah wilayah kedaulatan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun termasuk oleh Malaysia. Artinya pemimpin bangsa ini apabila berkomitmen NKRI harga mati, maka tidak menempatkan wilayah-wilayah terluar yang berbatasan dengan negara lain dalam persengketaan melalui meja perundingan atau upaya diplomatik tetapi harus tegas dengan cara mengawal melalui sistem pengamanan dan pengelolaan yang baik.
Namun kondisi sekarang justru sebaliknya, Malaysia seakan-akan mendikte Indonesia masuk dalam permainannya yaitu melalui jalur diplomatik atau perundingan. Dengan pendekatan ini mereka berharap akan memperoleh keuntungan yang besar, sedangkan Indonesia melapangkan jalan tersebut secara tidak sadar. Mereka menggunakan pendekatan konflik dengan cara tentaranya masuk keperairan Indonesia, ini bisa dilihat pada 24 Februari 2007, Pemerintah Indonesia mencatat Malaysia melakukan 35 kali pelanggaran perbatasan. Contohnya, kapal perang Malaysia KD Budiman yang masuk ke wilayah perairan Indonesia sejauh satu mil laut dengan kecepatan 10 knot. Kemudian kapal perang KD Sri Perlis masuk sejauh dua mil laut dengan kecepatan 10 knot. Sedangkan pada tahun 2009 ini sudah berkali-kali kapal angkatan laut Malaysia masuk keperairan Indonesia bahkan menurut Kepala Staf Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Kol Laut (P) Marsetio, kepada wartawan di atas KRI Wiratno yang tengah berlabuh di Tarakan, Jumat (4/3), pesawat Super King milik Malaysia sudah dua kali melewati batas wilayah udara Indonesia. Terakhir, pesawat pengintai tersebut terbang di atas tiga kapal perang Indonesia yang tengah berpatroli. Kondisi ini luar biasa yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada negara yang militernya kuat karena pelanggaran yang sudah berlebihan maka tindakan tegas itu adalah jawabannya. Justru pemimpin bangsa ini dalam mensikapi kondisi ini mencari alasan ke rakyat Indonesia bahwa kita mengedepankan damai yang malah menimbulkan keresahan ditingkat grassroot. Bahkan rakyat Indonesia menilai negara ini rapuh tidak seperti saat Bung Karno yang tegas bahkan membentuk posko-posko sukarelawan dengan jargon ”ganyang Malaysia”.
Malaysia melakukan kontroversial ini adalah untuk mencari perhatian dunia sekaligus mengarahkan permasalahan ini pada jalur diplomatik karena diarena itulah mereka bisa berjaya dan parahnya Indonesia setuju. Inikah yang dinamakan NKRI harga mati? Tapi pada sisi lain kurang serius untuk melindungi NKRI.Haruskah badai kebobrokan pada lepasnya Sipadan dan Ligitan terulang kembali pada Ambalat ? kalau tetap ikut irama mereka, maka hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Hidup TNI, Hidup rakyat dan Hidup Indonesia.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »