<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sukses Dengan Antusiasme</title>
	<atom:link href="http://wardikin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wardikin.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Jul 2009 08:09:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wardikin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sukses Dengan Antusiasme</title>
		<link>http://wardikin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wardikin.wordpress.com/osd.xml" title="Sukses Dengan Antusiasme" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wardikin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KRISIS AMBALAT</title>
		<link>http://wardikin.wordpress.com/2009/07/05/krisis-ambalat/</link>
		<comments>http://wardikin.wordpress.com/2009/07/05/krisis-ambalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 08:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wardikin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wardikin.wordpress.com/2009/07/05/krisis-ambalat/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari terakhir ini diberbagai media selalu menyajikan berita diseputar krisis Ambalat bahkan secara khusus metro TV memasukkan orasi Bung Karno pada saat pertentangan dengan Malaysia. Ambalat adalah blok laut seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar. Ini adalah wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.. Sesuai dengan hasil persetujuan batas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=18&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini diberbagai media selalu menyajikan berita diseputar krisis Ambalat bahkan secara khusus metro TV memasukkan orasi Bung Karno pada saat pertentangan dengan Malaysia. Ambalat adalah blok laut seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar. Ini adalah wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.. Sesuai dengan hasil persetujuan batas laut dengan Malaysia pada tahun 1970 bahwa Ambalat merupakan wilayah yang sudah ditetapkan masuk wilayah Indonesia, tapi negara Malaysia belakangan ini mempersoalkan kembali bahwa wilayah tersebut bagian dari Malaysia. Karena pengakuan wilayah Ambalat ini oleh Malaysia menyebabkan banyak pelanggaran yang dilakukan kapal tentara diraja Malaysia yang masuk wilayah perairan Indonesia berkali-kali disekitar Ambalat.<br />
Malaysia mungkin melakukan pengakuan ini dikarenakan keberhasilannya mengambil pulau Sipadan dan Ligitan yang juga daerah yang tidak jauh dari Ambalat. Keberhasilan ini dikarenakan pulau Sipadan dan Ligitan tidak ditempati oleh rakyat Indonesia tapi dihuni serta dikelolah oleh rakyat Malaysia, meskipun pulau Sipadan dan Ligitan juga sudah ditetapkan masuk wilayah Indonesia. Pulau Sipadan dan Ligitan begitu mudah pindah kepemilikan ke Negara Malaysia dan dimenangkan melalui melalui perundingan-perundingan atau dengan pendekatan-pendekatan diplomatis. Mengapa mereka menempuh jalur ini, mungkin mereka sudah mengerti bahwa kelemahan bangsa Indonesia untuk mempertahankan NKRI terletak pada jalur diplomasi atau perundingan-perundingan. Malaysia untuk meraih keberhasilan yang sama, maka Ambalat didekati dengan strategi dan pendekatan politik yang sama agar Indonesia terjebak atau terperangkap dalam iramanya. Mungkin Malaysia sudah mengetahui bahwa Indonesia sebagai Negara besar dengan wilayahnya yang luas namun nyalinya kecil dan kurang percaya diri, sehingga hal ini dijadikan modal meraih kemenangan untuk mengambil Ambalat.<br />
Sungguh ironis dengan kenyataan kondisi dalam negeri Indonesia banyak pemimpin bangsa sebelum jadi mereka kebanyakan berjanji kepada bangsa ini bahwa NKRI harga mati namun pada realitanya setelah mereka terpilih, janjinya tak lebih seonggokan selogan untuk membangun citra agar dipilih.</p>
<p>HARGA MATI<br />
Sebenarnya gesekan perbatasan antar dua negara ini sudah terjadi sejak 1967. Bahkan pada 27 Oktober 1969, Indonesia-Malaysia sampai meneken Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia &#8211; Malaysia. Dalam perjanjian itu disebutkan, kedua negara melakukan ratifikasi pada tanggal 7 Nopember 1969. Anehnya, di tahun yang sama Malaysia justru menerbitkan peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh. Indonesia dan Singapura, tak mengakui peta baru Malaysia itu. Kemudian pada 17 Maret 1970 kembali ditanda tangani Persetujuan Tapal Batas Laut Indonesia dan Malaysia. Sembilan tahun berselang Malaysia kembali menerbitkan peta baru mengenai tapal batas. Kali ini Malaysia memasukan blok maritim Ambalat ke dalam wilayahnya.<br />
Ini sudah jelas  bahwa blok Ambalat yang sudah menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah diatur dalam batas-batas wilayah itu adalah wilayah kedaulatan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun termasuk oleh Malaysia. Artinya pemimpin bangsa ini apabila berkomitmen NKRI harga mati, maka tidak menempatkan wilayah-wilayah terluar yang berbatasan dengan negara lain dalam persengketaan melalui meja perundingan atau upaya diplomatik tetapi harus tegas dengan cara mengawal melalui sistem pengamanan dan pengelolaan yang  baik.<br />
Namun kondisi sekarang justru sebaliknya, Malaysia seakan-akan mendikte Indonesia masuk dalam permainannya yaitu melalui jalur diplomatik atau perundingan. Dengan pendekatan ini mereka berharap akan memperoleh keuntungan yang besar, sedangkan Indonesia melapangkan jalan tersebut secara tidak sadar. Mereka menggunakan pendekatan konflik dengan cara tentaranya masuk keperairan Indonesia, ini bisa dilihat pada 24 Februari 2007, Pemerintah Indonesia mencatat Malaysia melakukan 35 kali pelanggaran perbatasan. Contohnya, kapal perang Malaysia KD Budiman yang masuk ke wilayah perairan Indonesia sejauh satu mil laut dengan kecepatan 10 knot. Kemudian kapal perang KD Sri Perlis masuk sejauh dua mil laut dengan kecepatan 10 knot. Sedangkan pada tahun 2009 ini sudah berkali-kali kapal angkatan laut Malaysia masuk keperairan Indonesia bahkan menurut Kepala Staf Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Kol Laut (P) Marsetio, kepada wartawan di atas KRI Wiratno yang tengah berlabuh di Tarakan, Jumat (4/3), pesawat Super King milik Malaysia sudah dua kali melewati batas wilayah udara Indonesia. Terakhir, pesawat pengintai tersebut terbang di atas tiga kapal perang Indonesia yang tengah berpatroli. Kondisi ini luar biasa yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada negara yang militernya kuat karena pelanggaran yang sudah berlebihan maka tindakan tegas itu adalah jawabannya. Justru pemimpin bangsa ini  dalam mensikapi kondisi ini mencari alasan ke rakyat Indonesia bahwa kita mengedepankan damai yang malah menimbulkan keresahan ditingkat grassroot. Bahkan rakyat Indonesia menilai negara ini rapuh tidak seperti saat Bung Karno yang tegas bahkan membentuk posko-posko sukarelawan dengan jargon ”ganyang Malaysia”.<br />
Malaysia melakukan kontroversial ini adalah untuk mencari perhatian dunia sekaligus mengarahkan permasalahan ini pada jalur diplomatik karena diarena itulah mereka bisa berjaya dan parahnya Indonesia setuju. Inikah yang dinamakan NKRI harga mati? Tapi pada sisi lain kurang serius untuk melindungi NKRI.Haruskah badai kebobrokan pada lepasnya Sipadan dan Ligitan terulang kembali pada Ambalat ? kalau tetap ikut irama mereka, maka hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Hidup TNI, Hidup rakyat dan Hidup Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wardikin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wardikin.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=18&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wardikin.wordpress.com/2009/07/05/krisis-ambalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8709460af7b152c7858d5c2a9e1c9b68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wardikin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENDIDIK DENGAN HATI</title>
		<link>http://wardikin.wordpress.com/2009/06/13/mendidik-dengan-hati/</link>
		<comments>http://wardikin.wordpress.com/2009/06/13/mendidik-dengan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 14:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wardikin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Antusiame]]></category>
		<category><![CDATA[dan Inovatif]]></category>
		<category><![CDATA[Humanis]]></category>
		<category><![CDATA[Terpercaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wardikin.wordpress.com/2009/06/13/mendidik-dengan-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia pendidikan selalu digemparkan dengan berbagai fenomena negatif, yaitu ada pertikaian antar mahasiswa, pembunuhan yang dilakukan seorang pelajar, pencurian, menganiaya orang tua, pemerkosaan dan lain sebagainya. Disisi lain jaman mengalami metamorfosis menuju era globalisasi yang dituntut persaingan sumberdaya manusia antar anak bangsa. Sedangkan peningkatan kualitas sumberdaya manusia lebih banyak diciptakan melalui jalur pendidikan yang bermutu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=15&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia pendidikan selalu digemparkan dengan berbagai fenomena negatif, yaitu ada pertikaian antar mahasiswa, pembunuhan yang dilakukan seorang pelajar, pencurian, menganiaya orang tua, pemerkosaan dan lain sebagainya. Disisi lain jaman mengalami metamorfosis menuju era globalisasi yang dituntut persaingan sumberdaya manusia antar anak bangsa. Sedangkan peningkatan kualitas sumberdaya manusia lebih banyak diciptakan melalui jalur pendidikan yang bermutu. Antagonisme fenomena ini membutuhkan pemikiran yang dalam apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam dunia pendidikan kita, sehingga banyak terjadi kekerasan dalam dunia pelajar padahal mereka calon ilmuwan dan cerdik cendikia yang dibutuhkan Negara ini untuk membangun bangsa yang maju dan bermartabat.<br />
Hiruk pikuk prilaku pelajar yang menyimpang dari norma-norma kehidupan social hal ini dunia pendidikan secara tidak sadar juga mempunyai andil ikut menanamkan saham perilaku tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi? Peran guru dalam melakukan proses pembelajaran adalah faktor yang juga menentukan kepribadian pelajar. Dorothy Noltie telah memberikan nasihat yang indah kepada kita bahwa “anak belajar dari apa yang mereka alami” diantaranya :</p>
<p>Jika seorang anak hidup dalam kritikan, ia belajar menyalahkan<br />
Jika seorang anak hidup dalam permusuhan , ia belajar berkelahi<br />
Jika seorang anak hidup dalam ejekan, ia belajar menjadi rendah diri<br />
Jika seorang anak hidup selalu dipermalukan, ia belajar merasa bersalah, …</p>
<p>Proses pembelajaran yang mengadopsi prilaku diatas banyak secara tidak sadar telah dipraktekkan oleh sebagian guru. Padahal hal ini menyebabkan dampak yang luar biasa tidak hanya dilingkungan pendidikan namun juga ketika pelajar terjun kemasyarakat perilaku negatif tersebut akan ditebarkan bak penyakit menular. Disinilah pendidikan harus merubah paradigma proses pembelajaran yang tidak hanya melakukan transfer of knowledge melainkan juga internalisasi nilai-nilai kehidupan yang positif. Dalam dunia Pendidikan tidak bisa hanya diinterpretasikan sebagai tempat mengais rejeki saja dan hanya menekankan mengajarakan keilmuan saja, melainkan mendidik dan menanamkan nilai-nilai kehidupan yang bermakna adalah sangat penting untuk menghindarkan pelajar dari malapetaka kehidupan.<br />
Mendidik dengan hati meruapakan bagian dari jawaban atas fenomena buram yang berkembang saat ini yang sedang menyelimuti dunia pendidikan. Mendidik dengan hati artinya seorang pendidik dalam menyampaikan keilmuan harus mengedepankan sikap bersahabat, menyenangkan, tidak emosional, empati, konsistensi terhadap komitmen, antusiasme, membangun team work, ramah dan santun, kesabaran, tanggungjawab, jujur, rasa aman, keadilan, dan semangat menanamkan nilai-nilai spiritualitas dengan bahasa hati. Bahasa hati ini bila benar-benar di aplikasikan oleh seorang pendidik maka dunia pendidikan akan melahirkan manusia-manusia yang tangguh dalam keilmuan juga tangguh dalam melaksanakan nilai-nilai kehidupan yang positif. Disamping itu kehidupan yang tidak bermoral akan hancur dan diganti peradapan baru yang benar-benar bernuasa islami. Berdasarkan nasehat Daniel Goleman mengatakan “ guru-guru spiritual yang termasyhur, menyentuh hati murid-murid mereka dengan bahasa emosi. Sungguh, simbol dan upacara keagamaan tak banyak artinya dari sudut pandang rasional; simbol dan upacara tersebut diungkapkan dengan bahasa hati”. Demikian definisi substantif dari mendidik dengan hati yang harus difahami para pendidik dinegeri ini.<br />
Disamping itu mendidik dengan <strong>HATI</strong> dapat dimaknai dalam bentuk lain yaitu <strong>H</strong>umanis, <strong>A</strong>ntusiame, <strong>T</strong>erpercaya, dan <strong>I</strong>novatif.   <strong>H</strong>umanis, berarti pendidik harus mengajarkan nilai-nilai atau asas-asas kemanusian kepada siswa melalui proses pembelajaran sehingga mereka nantinya dapat mewujudkan pergaulan hidup yang positif dan mengutamakan kepentingan sesama. Semua bidang studi harus mengajarkan hal ini dan tidak boleh hanya bidang studi tertentu saja (bersifat parsial) yang paling bertanggung jawab, karena pada dasarnya seluruh bidang studi harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang hakikih. <strong>A</strong>ntusiasme, berarti pendidik harus mampu mengalirkan energi semangat untuk menghadapi berbagai persoalan dan memecahkannya kepada seluruh peserta didik. William Lyon Phelps seorang profesor Universitas Yale dan pengarang buku The Excitement of Teaching mengatakan “ salah satu kunci utama adalah kemampuan untuk mempertahankan minat terhadap pekerjaan dan memiliki antusiasme”. Thomas A. Edison mengatakan “ saat seseorang meninggal, bila dia dapat mewariskan antusiasme pada anak-anaknya, dia telah memberikan warisan yang tak ternilai harganya”. Pendidik disamping mengajar harus dengan antusiasme dan bersahaja juga mampu mengalirkan energi potensial tesebut pada peserta didik dengan baik agar mereka tahan terhadap ujian jaman dan mampu tampil menjadi yang terbaik. <strong>T</strong>erpecaya, berarti seorang pendidik dengan kejujurannya harus mampu menunjukkan kepada peserta didik bahwa keilmuan yang diberikan adalah mengandung kebenaran dan memiliki makna bagi kehidupan yang mereka harapkan. Seorang pendidik harus menguasai atau kompeten dalam menyampaikan materinya, sebab ini menyangkut masa depan mereka dimana dia hidup tidak dijaman sang pendidik. Apabila disarikan dari Abdul Jawwad dalam bukunya manajerial sukses menjelaskan bahwa “ pekerjaan guru adalah pekerjaan yang terisolir didalam kelas dan didalam kelas tersebut apa yang sang guru sampaikan sangat menentukan masa depan peserta didik dan masa depan peradaban”. Ternyata benar-benar sungguh mulia dan sekaligus sarat dengan tanggung jawab pekerjaan bagi seorang pendidik. <strong>I</strong>novatif, berarti seorang pendidik memiliki paradigma pembaharu baik dalam hal pendekatan, metode, dan alat dalam mengkomunikasikan gagasan atau keilmuan kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara utuh. Seorang pendidik tidak boleh alergi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan dibidang metode pembelajaran. Jiwa eksperimental seorang pendidik dalam meraih kesempurnaan proses pembelajaran adalah wajib sebab pendidik adalah “agent of change”. Dale Carnigie mengatakan “hendaklah pikiran anda selalu terbuka terhadap perubahan, sambutlah dan rangkulah perubahan itu”. Hal ini diperjelas oleh Stephen R. Covey yang mengatakan “jika anda menginginkan perubahan kecil garaplah perilaku anda; jika anda menginginkan perubahan besar dan mendasar, garaplah paradigma”. Dalam hal ini reputasi seorang pendidik dipertaruhkan, namun Allah SWT telah memberikan rahmat yang besar kepada setiap manusia untuk bisa mengaktualisasikan segala potensinya dan semuanya kembali kepada sang pendidik maukah mereka bersyukur dan berusaha atas potensi itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wardikin.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wardikin.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=15&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wardikin.wordpress.com/2009/06/13/mendidik-dengan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8709460af7b152c7858d5c2a9e1c9b68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wardikin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INNOVATIVE SCHOOL : MEWARISKAN ANTUSIASME</title>
		<link>http://wardikin.wordpress.com/2008/11/21/innovative-school-mewariskan-antusiasme/</link>
		<comments>http://wardikin.wordpress.com/2008/11/21/innovative-school-mewariskan-antusiasme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 11:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wardikin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wardikin.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Saat seseorang meninggal, bila dia dapat mewariskan antusiasme pada anak-anaknya, dia telah memberikan suatu warisan yang tak ternilai harganya - (Thomas A. Edison) -   Berdasarkan Human Development Report dari UNDP, Human Development Index (HDI) Indonesia tahun 2007/2008 menempati peringkat 107, dua peringkat di bawah Vietnam. Indikator dari HDI meliputi pendapatan perkapita, akses terhadap pendidikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=10&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 85pt 0 84pt;"><strong><em><span style="font-size:11pt;color:#333333;font-family:&quot;">Saat seseorang meninggal, bila dia dapat mewariskan antusiasme pada anak-anaknya, dia telah memberikan suatu warisan yang tak ternilai harganya </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0 91pt 0 78pt;" align="center"><em><span style="font-size:11pt;color:#333333;font-family:&quot;" lang="SV">- <strong>(Thomas A. Edison)</strong> -</span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berdasarkan<em><span style="color:black;"> Human Development Report </span></em>dari UNDP, <em><span style="color:black;">Human Development Index</span></em> (HDI) Indonesia tahun 2007/2008 menempati peringkat 107, dua peringkat di bawah Vietnam. <span lang="SV">Indikator dari HDI meliputi pendapatan perkapita, akses terhadap pendidikan dan akses terhadap kesehatan. Peringkat Indonesia yang hanya menempati angka 107 memberikan gambaran bagi kita bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain terutama pada negara kawasan Asia Tenggara atau anggota ASEAN. </span><span lang="IT">Terkait dengan hal tersebut <span> </span>menurut <strong><span style="font-weight:normal;">Ki Supriyoko</span></strong> (<em><span style="font-style:normal;">Ketua Majelis Luhur Tamansiswa</span>)</em></span></span></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IT"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IT"><span> </span></span><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">ada tiga kata kunci guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu visi, komitmen, dan disiplin. Kunci ini mungkin ditujukan untuk sistem pendidikan nasional namun sesungguhnya juga berlaku untuk dapat diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia terutama tingkat satuan pendidikan yang bernama sekolah/madrasah. Hal ini karena sekolah/madrasah memiliki posisi strategis atau dalam bahasa lain sebagai garda terdepan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Seperti yang termuat dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span id="more-10"></span></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bila dilihat secara obyektif kebijakan pendidikan di Indonesia sekarang pada era reformasi sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya terutama peningkatan mutu sekolah dan guru. Hal ini dapat dilihat dengan adanya penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang esensinya sekolah diberikan hak untuk melakukan diversifikasi kurikulum yang merupakan proses penyesuaian, perluasan, pendalaman materi pembelajaran agar dapat melayani keneragaman kebutuhan dan tingkat kemampuan peserta didik serta kebutuhan daerah setempat dengan berbagai kompleksitasnya. Disamping memperbaiki kurikulumnya, mendiknas juga menyampaikan kebijakan tunjangan profesi bagu guru swasta dan negeri dengan harapan guru termotivasi meningkatkan prestasi kerja yang mendukung ketercapainya tujuan pendidikan nasional. Dengan dua kebijakan tersebut diharapkan sekolah dan guru memiliki visi, komitmen dan disiplin dalam membangun keunggulan dalam proses pendidikan seperti harapan yang digulirkan oleh Ki Supriyoko.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Visi menurut Block (1987) adalah masa depan yang dipilih, sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Artinya visi sekolah/madrasah merupakan impian masa depan yang menempatkan peserta didik mampu hidup pada zamannya dengan mewarisi ekspresi optimisme atau nama lain dari antusiasme. Begitu juga dengan guru yang merupakan bagian dari sekolah yang langsung bersentuhan dengan peserta didik harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan mentransfer nilai-nilai positif kehidupan termasuk didalamnya mewariskan antusiasme serta ruh sebagai manusia pembelajar. Visi keunggulan sumber daya manusia yang tertuang dalam visi pendidikan nasional yaitu terwujudnya system pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah, harus benar-benar menjadi rujukan visi sekolah/madrasah serta menjelma dalam visi pembelajaran oleh guru.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;" lang="IT">Komitmen menurut Baron dan Greenberg (1990) memiliki arti penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, di mana individu akan berusaha dan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di organisasi tersebut</span><span lang="IT">. Hal ini mengambarkan bahwa seseorang yang sudah terjun dalam profesi guru harus mengabdikan diri dengan totalitas sepenuh hati dalam berkarya dan berinovasi untuk kualitas pendidikan yang berfungsi mewariskan antusiasme dan mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan jaman. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh Sayyidina Ali yaitu didiklah anak-anakmu sesuai dengan tuntutan hidup dijamannya. Namun saat ini masih banyak dijumpai guru yang masih melakukan proses pembelajaran seadanya tanpa didesain strategi yang memadai tanpa melibatkan pendekatan VAK ( visual, auditori dan kinestetik), kecerdasan majemuk (<em>multiple intelligent</em>) dan tanpa menggunakan pendekatan-pendekatan muthakir seperti <em>cooperatif learning, active learning </em>dalam proses pendidikan sehingga banyak siswa yang mengalami titik jenuh dan kehilangan motivasi serta jauh dari kompetesi yang diharapkan. Persoalan yang lebih dalam lagi yaitu masih banyak guru yang mendalami profesi yang lain dan kurang berkorelasi dengan peningkatan profesi keguruan sehingga secara keilmuan kurang terasah dengan baik bahkan tidak terfikirkan adanya perbaikan proses. Guru seperti ini senang dengan kemapanan (<em>status quo</em>) dan kederhanaan serta tertutup dengan temuan-temuan perkembangan kemajuan proses metodik-didaktik. Disamping itu guru tipe ini tidak banyak melakukan penelitian walaupun ada pelatihan-pelatihan PTK (penelitian tindakan kelas) karena hal ini dipandangan sebagai kegiatan formalitas untuk memperoleh legalisasi sebagai bahan sertifikasi setelah itu kembali ke titik nol atau tak berbekas. Dengan adanya kebijakan tunjangan profesi bagi guru merupakan angin segar bagi dunia pendidikan khususnya guru untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan pada <em>customer</em> namun hal ini akan sia-sia bila guru tidak memiliki jiwa perubah sebagai manusia pembelajar yang didalam dirinya selalu melakukan perbaikan terus menerus (<em>continously improvement</em>) dan beradaptasi dengan perkembangan jaman. Guru sebagai manusia pembelajarlah yang nantinya mampu mewariskan sesuatu yang berharga bagi kesuksesan hidup dimasa depan bagi peserta didik yaitu dengan mewariskan antusiasme.</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="IT">Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan. Presiden Amerika Serikat (AS) ke-26, Theodore Rosevelt (1858-1919) pernah mengatakan, <em>With self-discipline, most anything is possible</em>; dengan disiplin diri, kebanyakan hal menjadi mungkin. Guru yang disiplin dalam menjalankan profesinya tentunya pekerjaan-pekerjaan seperti menyusun perangkat administrasi guru, silabus, RPP dan penilaian dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. </span>Pembelajaran dan penilaian hasil karya siswa yang tepat waktu serta bisa dipertanggung jawabkan juga merupakan bagian dari <em>hidden curriculum</em>. Artinya sikap disiplin guru menjadi energi positif yang<span>  </span>akan tertransfer kedalam diri peserta didik secara alami atau dalam bahasa lain peserta didik menjadikan guru sebagai tauladan. Pada bagian yang lain guru juga dituntut selalu melakukan adaptasi perkembangan teknologi informasi yang diimplementasikan kedalam wilayah pembelajaran (misalnya pembelajaran berbasis ICT, e-learning) maka guru seharusnya melakukan pengembangan diri untuk menguasai kompetensi tersebut tanpa harus disikapi dengan rasa apriori ataupun mengeluh. Menurut John Maxwell, penulis buku <em>Developing The Leader Within You</em>, ada empat hal yang harus kita perhatikan untuk melakukan pengembangan diri secara disiplin sehingga dapat membangkitkan potensi dahsyat yang kita miliki. Empat hal tersebut adalah <em>start with yourself – start early – start small – start now</em>. Mulai dari diri sendiri – sesegera mungkin – sedikit demi sedikit – lakukan sekarang. Konsep pengembangan diri ini bila dilakukan dengan antusias maka guru akan menaiki tangga kesuksesan dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas secara <em>step by step</em> dengan bangunan kebiasaan yang baru <span style="color:black;">secara terus-menerus berulang-ulang dengan disiplin</span>. S<span style="color:black;">ebagaimana yang dikatakan oleh </span>Aristoteles, seorang filsuf besar sepanjang zaman, bahwa kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang<span style="color:red;">. </span>Fenomena ini adalah bagian dari sebuah episode besar peran guru untuk dapat mewariskan antusiasme dan menyiapkan generasi yang siap hidup dijamannya dengan segala kompleksitas kompetisinya. </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Matahari masih semangat dalam memberikan pencerahan terhadap seluruh penghuni bumi dengan terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, maka peluang dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia dapat bersaing dengan Negara maju lainnya adalah masih besar namun dengan syarat sekolah dan guru harus memiliki visi, komitmen serta disiplin dalam menjalankan misinya untuk tetap mewariskan antusiasme pada peserta didik sebagai warisan yang tak ternilai harganya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wardikin.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wardikin.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=10&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wardikin.wordpress.com/2008/11/21/innovative-school-mewariskan-antusiasme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8709460af7b152c7858d5c2a9e1c9b68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wardikin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antusiasme Berprestasi</title>
		<link>http://wardikin.wordpress.com/2008/11/01/hello-world/</link>
		<comments>http://wardikin.wordpress.com/2008/11/01/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 00:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wardikin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan, secara nasional selalu menjadi perbincangan dari masyarakat awam sampai para pakar di negeri ini, dalamkonteks mempertanyakan kualitas layanan dalam proses pendidikan dan sudahsejauh mana dapat berkompetisi dengan pendidikan di negara lain. Ungkapan gundah-gulana tersebut bukanlahsatu hal yang artifisial, tetapi didukung oleh informasi hasil research yangmenyatakan bahwa sumber daya manusia dalam Human Development Index (HDI) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=1&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcap">P</span>endidikan, secara nasional selalu menjadi perbincangan dari masyarakat awam sampai para pakar di negeri ini, dalamkonteks mempertanyakan kualitas layanan dalam proses pendidikan dan sudahsejauh mana dapat berkompetisi dengan pendidikan di negara lain.</p>
<div style="text-align:justify;">Ungkapan gundah-gulana tersebut bukanlahsatu hal yang artifisial, tetapi didukung oleh informasi hasil research yangmenyatakan bahwa sumber daya manusia dalam Human Development Index (HDI) sangattertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga apalagi dengannegara maju.</div>
<div style="text-align:justify;"><span id="more-1"></span></div>
<p style="text-align:justify;">Dalam presentasi DR. Imam Robandi padaOlympiade and Conference di UMM Dome disebutkan bahwa kemajuan sebuah negaradipengaruhi oleh tiga faktor penting dan ketiganya diilustrasikan seperti“Segitiga Emas” yang saling mempengaruhi, yakni pendidikan, ekonomi, danteknologi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan menjadi salah satu komponenpenting yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Bahkanbeliau mengatakan bahwa setelah Jepang kalah dari sekutu saat perang duniake-2, selanjutnya dalam pembangunan negara Jepang, pendidikan menempati skalaprioritas utama. Hal ini dilakukan agar Jepang tetap menjadi negara yangdiperhitungkan oleh negara-negara lain. Dengan kerja keras dan antusiasme,Jepang menjadi negara yang luar biasa maju baik di sektor sains dan teknologimaupun pertumbuhan ekonominya</p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia pemerataan kualitaspendidikan memang kurang mendapat porsi yang sesuai dalam RAPBN, namun adasebagian kecil ilmuwan atau pendidik yang menaruh perhatian terhadap upayamenjujung nama baik bangsa ini melalui perbaikan kualitas pendidikan,diantaranya melalui event olimpiade internasional di bidang sains. Salah satutokoh penting di negara ini yang berjuang dalam meraih prestasi olimpiade sainsdi tingkat internasional adalah Prof. Johannes Surya dalam bidang Fisika.Keberhasilannya dalam meraih emas bahkan juara dunia di Singapura pada tahun2006 telah mencuatkan bangsa ini di mata internasional. Hal ini menunjukkan bahwasebenarnya masyarakat Indonesia bukanlah bangsa yang ”ber-IQ jongkok” melainkanantara impian dan target tidak diikuti langkah yang ideal serta ketekunan.Konsep mestakung yang digulirkan oleh Prof. Johannes Surya (2006) perludijadikan pertimbangan dalam mengelola pendidikan di Indonesia. Ini belum lagikeberhasilan-keberhasilan olimpiade internasional sains yang lain yang perludijadikan spirit dalam menata pendidikan di Indonesia. Parapendekar sains tersebut adalah sosok tokoh yang memiliki antusiasme luar biasayang harus diwariskan kepada anak bangsa agar mereka bisa berkarya menjujungperadaban bangsa di tengah pusaran peradaban bangsa-bangsa maju di dunia ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Thomas A. Edison (dalam Dale Carnigie,2003) mengatakan:” Saat seseorang meninggal, bila dia dapat mewariskanantusiasme pada anak-anaknya, dia telah memberikan suatu warisan yang takternilai harganya”. Ralph Waldo Emerson, seorang filosof Amerika yang terkemukamengemukakan bahwa: ”Setiap saat yang penting dan berdampak besar dalam sejarahdunia adalah bukti kemenangan dari antusiasme”. Pengalaman membuktikankebenaran dari pernyataan tersebut adalah dengan sentuhan para pendekar sainsIndonesia ternyata duta bangsa dapat meraih prestasi gemilang dalam olimpiadesains internasional walaupun sebelumnya opini pesimistik dilontarkan orangbahwa juara dunia olimpiade Fisika internasional adalah sebuah impian yangtidak masuk akal (absurd), namun antusiasme para pendekar sains telah mengubahimpian tersebut menjadi kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu besarnya raihan prestasi di bidangolimpiade sains internasional yang dicapai Indonesia, namun tidak dijumpaidalam keberhasilan tersebut bahwa delegasinya merupakan produk lembagapendidikan yang bernaung di bawah payung lembaga pendidikan Muhammadiyah.Muhammadiyah yang terkenal sebagai gerakan pembaharu (tajdid) sepintas terlihathanya berkutat pada wilayah keagamaan dan sosial-kemasyarakatan, namun belummenjadi yang terdepan dalam ranah sains dan teknologi.</p>
<p style="text-align:justify;">Para petinggi Majelis DikdasmenMuhammadiyah Pusat dalam berbagai kesempatan terlalu sering menyampaikaninformasi mengenai kuantitas lembaga pendidikan Muhammdiyah di Indonesia, bahwalembaga pendidikan Muhammadiyah adalah yang terbesar, sehingga wargaMuhammadiyah banyak yang bangga dengan capaian tersebut namun di sisi lain,lalai akan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama dalam bidangsains dan teknologi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin didasarkan pada kondisi tersebut,Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur meluncurkan programOlycon (Olympiade and Conference) yang ditujukan sebagai salah satu upaya untukmemunculkan energi antusiasme dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk dapatberbuat lebih banyak untuk meningkatkan ghirah berkompetisi bidang sains danteknologi. Dalam Olycon 2008 di UMM Dome Malang, dalam sambutannya Prof. DinSyamsudin, Ketua PP Muhammadiyah mengatakan bahwa lembaga pendidikanMuhammadiyah harus bisa lebih mengglobal atau menginternasional. Beliau jugamengatakan: why not the best?. Ini bermakana bahwa ketua PP Muhammadiyahtersebut berharap kepada pelaku pendidikan di Muhammadiyah harus memilikiantusiasme yang besar untuk mewujudkan Muhammadiyah yang berkemajuan</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Sir Edward Victor Appleton yangpernah menerima penghargaan hadiah Nobel bidang Fisika diangkat menjadi rektordi University of Edinburgh,majalah Time mengirimkan sepucuk telegram dan menanyakan apakah ada rahasiadari keberhasilannya. ”Ya,” jawabnya, karena ”antusiasme”. KH. Ahmad Dahlanmendirikan dan membesarkan Muhammadiyah karena ”antusiasme” sehingga Muhammadiyahdikenal sebagai gerakan tajdid dan gerakan purifikasi di Indonesia. Halini bukan berarti perjuangan KH. Ahmad Dahlan tidak mempunyai kendala tetapitantangan selalu silih berganti bersamaan dengan perjalanan waktu, namun karenaantusiasme untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan tujuanterwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya maka akhirnya memperolehjalan menuju kesuksesan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila dikaji dari pespektif historis,sesungguhnya apa yang dilakukan dan diperjuangkan oleh KH. Ahmad Dahlan padaumumnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang takut gagal. Perlu diketahui,secara umum kebiasaan yang menjadikan kegagalan disebabkan hidup yang tidakpunya visi dan dedikasi, tidak memiliki karakter unggul, mudah menyerah, tidakfokus, dan kurang mencintai apa yang sedang mereka kerjakan. Justru kebiasaaninilah yang melekat pada pribadi KH. Ahmad Dahlan, sehingga Muhammadiyah tetapeksis dan tidak lapuk oleh perkembangan zaman. Bahkan Muhammadiyah selaluresponsif terhadap perkembangan dan tantangan zaman. Mungkin apa yang dilakukanoleh pendiri Muhammadiyah tersebut juga dilakukan oleh tokoh-tokoh besar duniayang sukses dibidangnya. Ini dapat dilihat dari apa yang dikatakan oleh ThomasA. Edison, The succesful person makes a habit of doing what the failing persondoesn’tlike to do”.( orang-orang sukses memiliki kebiasaan melakukan hal-halyang tidak disukai oleh orang-orang gagal).</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah telah mencatat bahwa antusiasmebernilai lebih dari kekayaan bahkan dapat memunculkan semangat hidup. Lembagapendidikan Muhammadiyah agar tetap eksis dan menginternasional sertasiswa-siswinya dapat meraih prestasi olimpiade sains internasional, maka sumberdaya manusianya harus memiliki antusiasme dan sifat-sifat yang tidak disukai olehorang-orang gagal.</p>
<p style="text-align:justify;">Olympiade and Conference (Olycon) yangmenjadi agenda rutin tahunan dari Majelis Dikdasmen PWM Jatim bisa dilihat secarapositif dalam bingkai pemikiran dan usaha untuk menanamkan antusiasmeberprestasi kepada insan pendidikan Muhammadiyah se-Indonesia. Prinsip&#8221;pembangunan yang berkelanjutan” (sustainable development) benar-benarmendasari perhelatan akbar bernuansa akademik-intelektual ini. Betapa tidak,sinergi pembangunan sumber daya antara pelaku dan pengelola pendidikanMuhammadiyah yang dilakukan melalui konferensi dan peserta didik yang dilakukanmelalui olimpiade benar-benar tercapai.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan jumlah tidak kurang dari 1.500peserta olimpiade dari berbagai sekolah Muhammadiyah dan luar Muhammadiyahdalam dan luar Jawa Timur serta sekitar 2.000 peserta konferensi, menjadikanOlycon sebagai ajang aktualisasi dan pembuktian pendidikan Muhammmadiyah dalamberbagai dimensinya. Bagi siswa, olimpiade memberikan mereka nuansa kompetitifdalam berprestasi. Bagi pendidik, ini bisa dianggap sebagai penilaian akankeberhasilan pembelajaran. Bagi sekolah, Olycon adalah pelecut antusiasmesekaligus wahana informatif-edukatif akan stategi pengembangan lembagapendidikan dan bagi bangsa Indonesia,secara umum Olycon adalah sumbangsih Muhammadiyah dalam peningkatan kualitaspendidikan</p>
<p style="text-align:justify;">Olycon, mengacu pada keberhasilan SMAMuhammadiyah 1 Gresik sebagai juara umum dalam perhelatan ini, juga mengajarkannilai penting kesungguhan berusaha dan kekuatan do’a. Untukberprestasi—siapapun itu tidak peduli apakah dia memiliki kapasitas intelektualdan dukungan material yang memadai—tetap harus berusaha dengan sungguh-sungguhuntuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tim Olycon kami, meski secara umumadalah siswa-siswi pilihan dalam tiap bidang pelajaran, tetap mendapatkanbimbingan khusus selama satu bulan. Disamping itu, usaha profetis jugadilakukan dengan selalu berdo’a agar keberhasilan tercapai. Antusiasmeberprestasi ditancapkan, harapan dibeberkan dan bimbingan diberikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Harapan kami, yang mungkin juga menjadiharapan bangsa, semoga Olycon di tahun-tahun mendatang bisa menjadi spiritpendidikan Muhammadiyah, menanamkan antusiasme berpretasi dan sarana komunikasiintensif untuk membahas strategi pengelolaan pendidikan. Dan, sekali lagi,mengutip harapan Din Syamsuddin: Why Not The Best!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wardikin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wardikin.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wardikin.wordpress.com&amp;blog=5368160&amp;post=1&amp;subd=wardikin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wardikin.wordpress.com/2008/11/01/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8709460af7b152c7858d5c2a9e1c9b68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wardikin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
